Macam-macam Puasa Sunnah di antara hikmah dan
rahmat Allah azza wa jalla kepada hamba-hambaNya adalah bahwa Dia menjadikan
untuk mereka ibadah-ibadah sunnah yang menyerupai ibadah-ibadah wajib. Hal itu
untuk menambah pahala dan ganjaran bagi orang-orang yang beramal, menambah
kekurangan dan kerusakan yang mungkin terjadi pada ibadahwajib. Sungguh telah
dijelaskan sebelumnya bahwa amalan-amalan sunnah menyempurnakan amalan-amalan
wajib pada Hari Kiamat. Hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa adalah:
PUASA ENAM HARI
PADA BULAN SYAWWAL
1). Puasa enam hari pada Bulan Syawwal, berdasarkan
hadits Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku mendengar
Rasulullah ﷺ
bersabda,
مَن صامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ
بِسِتٍّ مِن شَوّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ.
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian
menyusulkannya dengan puasa enam hari dari Bulan Syawwal, maka ia seperti
(pahala) puasa setahun.”[1][1] Kemudian macam puasa
sunnah yang kedua yaitu,
PUASA HARI ARAFAH
UNTUK SELAIN JAMAAH HAJI
2). Puasa Hari Arafah untuk selain jamaah haji,
berdasarkan hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
صيامُ يومِ عرفةَ،
أحتَسبُ على اللَّهِ أن يُكفِّرَ السَّنةَ الَّتي قبلَهُ والسَّنةَ الَّتي بعدَه
“Puasa Hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar
ia melebur kesalahan pada tahun lalu dan tahun yang tahun sesudahnya.”[2][2]
Adapun jamaah haji, maka tidak disunnahkan Puasa Arafah, karena Nabi ﷺ tidak berpuasa pada hari itu, sedangkan para sahabat menyaksikannya, dan karena dengan tidak berpuasa, jamaah haji lebih kuat dalam beribadah dan berdoa pada hari tersebut.
Baca juga: Fiqih Ringkas Bab Puasa
Kemudian macam puasa sunnah yang
ketiga yaitu,
PUASA HARI ASYURA’
3). Puasa Hari Asyura’
سُئَلَ
النَّبِيَّ عَنْ صَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ: أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ
يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ.
“Nabi ﷺ ditanya tentang
Puasa Asyura’ (10 Muharram)? Maka beliau menjawab, ‘Aku berharap kepada Allah
agar ia melebur kesalahan pada tahun sebelumnya’.”[3][3]
Dianjurkan berpuasa satu hari sebelumnya atau satu
hari sesudahnya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,
لَئِنْ بقيتُ إلى
قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ
“Bila aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya
aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan.”[4][4] Dan berdasarkan sabda Nabi
ﷺ,
صوموا يومًا قبلَه، أو يومًا بعدَه
خَالِفُوا اليَهُودَ .
“Berpuasalah satu hari sebelumnya atau sesudahnya,
selisihilah orang-orang Yahudi.”[5][5] Kemudian macam puasa
sunnah yang keempat yaitu,
PUASA HARI SENIN
DAN KAMIS SETIAP PEKAN
4). Puasa Hari Senin dan Kamis setiap pekan,
berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha,
كانَ النَّبيُّ ﷺ يتحرّى صِيَامَ
الإثنينِ والخميسِ
“Nabi ﷺ biasa mengawasi
dan menunggu-nunggu puasa Senin dan Kamis.”[6][6] Dan berdasarkan sabda
beliau ﷺ,
تُعْرَضُ الأعمالُ يومَ
الاثنينِ والخميسِ، فأُحِبُّ أن يُعْرَضَ عملي وأنا صائمٌ
“Amal-amal diperlihatkan pada Hari Senin dan Kamis,
maka aku ingin agar amalku diperlihatkan sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.”[7][7] Kemudian macam puasa
sunnah yang kelima yaitu,
PUASA TIGA HARI
DARI SETIAP BULAN
5). Puasa tiga hari dari setiap bulan, berdasarkan
sabda Nabi ﷺ kepada
Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma,
صُمْ
مِن الشَّهرِ ثلاثةَ أيّامٍ فإنَّ الحسنةَ بعَشْرِ أمثالِها وذلك مثلُ صيامِ
الدَّهرِ
“Berpuasalah tiga hari dari satu bulan, karena
sesungguhnya satu kebaikan (dilipatgandakan) dengan sepuluh kali semisalnya,
dan itu seperti (pahala) puasa setahun.”[8][8] Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
أَوْصانِي
خَلِيلِي ﷺ بثَلاثٍ: صِيامِ ثَلاثَةِ أَيّامٍ مِن كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ
الضُّحى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ .
“Kekasihku (Nabi ﷺ) berpesan tiga perkara kepadaku; berpuasa tiga hari dari setiap
bulan, shalat dua rakaat Dhuha, dan hendaknya aku Shalat Witir sebelum tidur.”[9][9]
Dianjurkan agar puasa tiga hari ini dilakukan pada
al-Ayyam al-Bidh, yaitu hari yang ke-13, ke-14 dan ke-15, berdasarkan hadits
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
مَن
كان منكم صائمًا منَ الشهرِ ثلاثةَ أيامٍ، فليَصُمِ الثلاثَ البيضَ.
“Barangsiapa di antara kalian berpuasa [tiga hari]
dari satu bulan, maka hendaknya dia berpuasa pada tiga hari yang putih.”[10][10] Kemudian macam puasa
sunnah yang keenam yaitu,
PUASA SATU HARI
DAN BERBUKA SATU HARI
6). Puasa satu hari dan berbuka satu hari,
berdasarkan sabda Nabi ﷺ,
أفضلُ الصِّيامِ صيامُ داودَ،
كانَ يصومُ يومًا ويُفطِرُ يومًا
“Puasa yang paling utama adalah Puasa Dawud
alaihissalam. Beliau biasa berpuasa satu hari dan berbuka satu hari.”[11][11]
Puasa ini termasuk jenis puasa sunnah yang paling
utama. Kemudian macam puasa sunnah yang ketujuh yaitu,
PUASA PADA BULAN
ALLAH (MUHARRAM)
7). Puasa pada bulan Allah (Muharram), berdasarkan
hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيامِ، بَعْدَ رَمَضانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ،
وأَفْضَلُ الصَّلاةِ، بَعْدَ الفَرِيضَةِ، صَلاةُ اللَّيْلِ.
“Puasa yang paling utama sesudah Ramadhan adalah
(puasa pada) bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama sesudah shalat
fardhu adalah shalat malam.”[12][12] Dan yang terakhir dari
macam-macam puasa sunnah yaitu,
PUASA SEMBILAN
HARI DZULHIJJAH
8). Puasa sembilan Hari Dzulhijjah; dimulai dari
hari pertama dari Bulan Dzulhijjah dan berakhir pada hari yang kesembilan,
yaitu Hari Arafah. Hal ini berdasarkan keumuman hadits-hadits yang menetapkan
keutamaan amal shalih pada hari tersebut. Sungguh Nabi ﷺ telah bersabda,
ما من أيامٍ العملُ الصالحُ فيهنّ أحبُّ
إلى اللهِ من هذهِ العشرِ
“Tidak ada hari-hari, di mana amal shalih pada hari tersebut lebih Allah cintai daripada hari-hari yang sepuluh ini.”[13][13] Dan puasa termasuk amal shalih.[14]
[1] Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1164.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1162.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1162, dan
ia adalah bagian dari hadits yang panjang.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1133 –
1134.
[5] Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/241; Ibnu
Khuzaimah, no. 2095, dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi diriwayatkan
secara shahih dari Ibnu Abbas yang senada dengannya secara mauquf kepadanya
dari ucapaan beliau.
[6] Diriwayatkan oleh Ahmad, 5/201; dan
at-Tirmidzi, no. 745, at-Tirmidzi berkata, “Hasan shahih”; Dishahihkan oleh
al-Albani dalam at-Ta’liq ala Ibni Khuzaimah, no. 2116.
[7] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 751;
an-Nasa’I, 1/322; dan Abu Dawud, no. 2436. Dihasankan oleh at-Tirmidzi dan
dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, no. 596.
[8] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1976.
[9] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1981.
* yaitu
hari-hari yang pada malamnya putih, karena adanya sinar bulan purnama sepanjang
malam yaitu tanggal 13, 14, dan 15. Lihat Hasyiyah as-Sindi ala Sunan
an-Nasa’I, 4/221. Ed.T.
[10] Diriwayatkan oleh Ahmad, 5/152; dan
an-Nasa’I, 4/222; dan ini adalah lafazh Ahmad. Dihasankan oleh al-Albani dalam
Shahih Sunan an-Nasa’I, no. 2277-2281.
[11] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1976.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1163.
[13] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 969.
[14] [Disalin dari kitab ‘Al-Fiqh al-Muyassar’
Penyusun Syaikh Abdul Aziz Mabruk al-Mahdi, Syaikh Abdul Karim bin Shunaitan
al-Amri, Syaikh Abdullah bin Fahd asy-Syarif dan Syaikh Faihan bin Syali
al-Muthairi, Judul dalam Bahasa Indonesia ’Fiqih Muyassar’ Penerjemah Izzudin
Karimi Lc, Penerbit Pustaka Darul Haq, Cetakan Ketujuh Dzulqo’dah 1440 H – Juli
2019 M].
Posting Komentar untuk "Macam-macam Puasa Yang Disunnahkan"