Syarat Puasa/Wajib Puasa
Ramadhan. Puasa Ramadhan wajib atas siapa yang memenuhi syarat-syarat berikut:
ISLAM
1). Islam, sehingga puasa
tidak wajib dan tidak sah dilakukan oleh orang kafir, karena puasa adalah
ibadah, dan ibadah itu tidak sah dilakukan oleh orang kafir, lalu bila orang kafir
itu masuk Islam, maka dia tidak wajib mengqadha’ puasa yang dilewatkannya
selama kekafirannya.
BALIGH
2). Baligh, sehingga puasa
tidak wajib atas orang yang belum mencapai umur dewasa, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,
رُفِعَ القَلَمُ عَن ثلاثةٍ....
“Pena diangkat dari tiga
orang…”[1][1]
Lalu Nabi ﷺ menyebutkan di antara mereka, yaitu anak-anak sampai dia
dewasa, akan tetapi bila anak yang belum baligh berpuasa maka puasanya sah bila
dia sudah mumayyiz (anak yang telah bisa membedakan antara yang bermanfaat dan
yang berbahaya). Walinya patut mendorongnya berpuasa untuk membuatnya terbiasa
dan gemar melakukannya.
BERAKAL
3). Berakal, sehingga puasa
tidak wajib atas orang gila dan orang lemah akal, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,
رُفِعَ القَلَمُ عَن ثلاثةٍ...
“Pena diangkat dari tiga
orang…” Lalu Nabi ﷺ menyebutkan di antara mereka,
yaitu orang gila sehingga dia sembuh.
Baca juga: Fiqih Ringkas Bab Puasa
SEHAT
4). Sehat, maka barangsiapa
sakit dan tidak mampu berpuasa, maka dia tidak wajib berpuasa. Bila orang sakit
tetap berpuasa, maka puasanya sah, berdasarkan Firman Allah ta’ala,
وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ
“Dan barangsiapa sakit atau
dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak
hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Lalu bila penyakitnya sudah
sembuh, maka wajib mengqadha’ puasa sejumlah hari-hari tidak berpuasanya.
IQAMAH MUKIM
5). Iqamah (bermukim),
sehingga puasa tidak wajib atas musafir, berdasarkan Firman Allah subhanahu wa
ta’ala,
وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ
“Dan barangsiapa sakit atau
dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak
hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Seandainya musafir tetap
berpuasa, maka puasanya sah. Dan wajib baginya mengqadha’ puasa sejumlah
hari-hari tidak berpuasanya selama safar.
SUCI DARI HAID DAN NIFAS
6). Suci dari haid dan nifas,
sehingga wanita haid dan nifas tidak wajib berpuasa, bahkan haram berpuasa atas
keduanya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,
أَليسَ إذا حاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ولَمْ تَصُمْ، فَذلكَ
نُقْصانُ دِينِها.
“Bukankah bila seorang wanita
mengalami haid tidak shalat dan tidak berpuasa? Itulah di antara kekurangan
agamanya.”[2][2]
Keduanya wajib mengqadha’ puasa, berdasarkan ucapan Aisyah radhiyallahu ‘anha,
كانَ يُصِيبُنا ذلكَ، فَنُؤْمَرُ بقَضاءِ الصَّوْمِ، ولا
نُؤْمَرُ بقَضاءِ الصَّلاةِ.
“Dahulu kami biasa mengalami
haid, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan
untuk mengqadha’ shalat.”[3][3][4]
[1] Diriwayatkan oleh Ahmad, 6/100; dan Abu
Dawud, 4/558; dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil, no. 297.
[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 304.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim, no. 335.
[4] [Disalin dari kitab ‘Al-Fiqh al-Muyassar’ Penyusun Syaikh Abdul Aziz Mabruk al-Mahdi, Syaikh Abdul Karim bin Shunaitan al-Amri, Syaikh Abdullah bin Fahd asy-Syarif dan Syaikh Faihan bin Syali al-Muthairi, Judul dalam Bahasa Indonesia ’Fiqih Muyassar’ Penerjemah Izzudin Karimi Lc, Penerbit Pustaka Darul Haq, Cetakan Ketujuh Dzulqo’dah 1440 H – Juli 2019 M].
Posting Komentar untuk "Syarat Wajib Puasa Ramadhan"