Lailatul
Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, adalah momen istimewa yang
dinanti oleh setiap Muslim di bulan Ramadan. Malam penuh keberkahan ini menjadi
kesempatan emas untuk meraih ampunan, rahmat, dan limpahan pahala dari Allah subhanahu
wa ta’ala. Namun, bagaimana cara mendapatkannya? Apa yang harus kita lakukan
agar tidak melewatkan malam yang begitu mulia ini? Dalam tulisan ini, kita akan
membahas langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk meraih Lailatul Qadar
dan memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadan. Ada beberapa cara agar kita bisa mendapatkan
lailatul qadar, diantaranya:
1. I’tikaf
Aisyah radhiyallahu
anha berkata:
كانَ
رَسولُ اللَّهِ ﷺ يُجاوِرُ في العَشْرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ ويقولُ: تَحَرَّوْا
لَيْلَةَ القَدْرِ في العَشْرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ.
Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam berdiam diri di dalam masjid pada sepuluh hari terakhir bulan
Ramadhan. Beliau berkata: “Carilah Lailatu Qadar pada sepuluh hari terakhir di
bulan Ramadhan”.[1][1]
Juwaibir pernah
bertanya kepada Adh-Dhahak; Bagaimana pandanganmu tentang wanita-wanita yang
sedang nifas, haid, dan juga musafir serta orang yang tidur di malam Lailatul
Qadar? Apakah mereka mendapat bagian dari Lailatul Qadar? Adh Dhahak berkata,
“Ya, setiap orang yang diterima amalannya pada malam itu mendapat bagiannya
dari Lailatul qadar”.[2][2]
2. Niat Bangun Malam
Niat adalah sebab
yang paling kuat agar bisa bangun malam. Betapa banyak orang yang akan
bepergian jauh dengan pesawat di waktu subuh dia mampu bangun awal malam, yang
demikian karena faktor niat. Manfaat yang lain, dengan niat agar ditulis
baginya pahala shalat malam sekalipun ketiduran. Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam bersabda;
من
أتى فراشَهُ وَهوَ ينوي أن يقومَ يصلِّي منَ اللَّيلِ فغلبتْهُ عَيناهُ حتّى أصبحَ
كُتِبَ لَهُ ما نَوى وَكانَ نَومُهُ صدقةً عليهِ من ربِّهِ
“Barangsiapa yang
mendatangi tempat tidurnya sedangkan dia punya niat untuk shalat malam,
kemudian ternyata ketiduran hingga pagi hari, akan ditulis baginya apa yang dia
niatkan. Tidurnya adalah sedekah dari Rabbnya”.[3][3]
3. Tidur Siang
Qaylulah atau bisa disebut dengan tidur siang termasuk
sarana pembantu agar mudah bangun malam. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda:
قِيلوا
فإنَّ الشَّيطانَ لا يَقِيلُ
Qoyluulah-lah
kalian, sesungguhnya syaithan tidak qaylulah.[4][4]
Al-Hafidz Ibnu Hajar
rahimahullah berkata: “Hadits diatas menunjukkan bahwa qoyluulah termasuk
kebiasaan para sahabat Nabi setiap harinya”.[5][5]
4. Jangan terlalu
capek di siang hari
Semisal terlalu
memaksakan diri untuk kerja seharian penuh, karena hal itu akan membuat tidur
semakin nyenyak di malam hari dan terluput dari Lailatul Qadar.
5. Jangan terlalu
banyak makan
Karena banyak makan
menyebabkan banyak minum, sehingga rasa ngantuk semakin kuat dan berat bangun
malam. Sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberi petunjuk terbaik
dalam masalah makan. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَا
مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ
صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ: فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ،
وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.
“Tidaklah seorang
anak Adam memenuhi tempatnya yang paling jelek daripada perutnya. Cukuplah
baginya beberapa suap sekedar untuk menegakkan tulang punggungnya. Apabila
tidak mungkin, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan
sepertiga untuk pernafasannya”.[6][6]
Wahab bin Munabbih
mengatakan: “Tidak ada yang paling dicintai oleh setan dari anak adam melainkan
orang yang banyak tidur dan makan”.[7][7]
6. Segera tidur
setelah Isya
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam membenci percakapan setelah isya yang tidak
membawa kebaikan. Berdasarkan hadits:
عَنْ
أَبِي بَرْزَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ،
وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا.
Dari Abu Barzah
bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membenci tidur sebelum ‘Isya
dan bercakap setelahnya.[8][8]
Al-Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah berkata: “Dibencinya tidur sebelum Isya karena dapat melalaikan
pelakunya dari shalat Isya sehingga keluar waktunya, adapun bercakap-cakap
setelahnya yang tidak ada manfaatnya, dapat menyebabkan tidur hingga shalat
subuh dan luput dari shalat malam”.[9][9]
Kemudian Al-Hafizh
menegaskan bahwa larangan bercakap-cakap setelah Isya dikhususkan pada
percakapan yang tidak ada manfaat dan kebaikan di dalamnya.[10][10]
7. Tidur dengan
berbaring ke sisi kanan
Imam Ibnul Qoyyim
rahimahullah berkata: “Syariat ini menganjurkan tidur dengan berbaring ke sisi
kanan, agar tidurnya tidak pulas hingga dia bisa bangun malam. Tidur ke sisi
kanan sangat bermanfaat bagi hati”.[11][11]
8. Pasang jam beker
sebagai alat pembangun
9. Minta bantuan
teman orang lain untuk membangunkan kita, seperti istri dan anak atau lainnya
10. Minta bantuan
teman agar menghubungi kita lewat telpon saat tengah malam
11. Jangan lupa
bangunkan keluarga
Aisyah radhiyallahu
anha berkata:
كانَ
النبيُّ ﷺ إذا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وأَحْيا لَيْلَهُ، وأَيْقَظَ أهْلَهُ.
Adalah Nabi
shallallahu alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan
beliau menguatkan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.[12][12]
12. Perbanyak doa
Perbanyaklah membaca
doa pada malam yang mulia ini dengan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam kepada Aisyah radhiyallahu anha tatkala dia berkata:
يا
رسولَ اللَّهِ أرأيتَ إن وافقتُ ليلةَ القدرِ ما أدعو قالَ تقولينَ اللَّهمَّ إنَّكَ
عفوٌّ تحبُّ العفوَ فاعفُ عنِّي
Wahai Rasulullah,
bila aku mendapati Lailatul Qadar, apakah yang saya ucapkan?. Nabi shallallahu
alaihi wa sallam bersabda; “Ucapkanlah: Allahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbul
‘Afwa Fa’fu ‘Anni; Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang
meminta ampun, maka ampunilah aku”.[13][13]
13. Baca al-Quran
Syaikh Ibnu Baz
rahimahullah berkata: “Dan menghidupkan malam Lailatul Qadar adalah dengan
shalat, dzikir, baca doa, membaca al-Quran dan sebagainya dari amalan-amalan
kebaikan”.[14][14]
Allahu A’lam[15]
[1] HR. Bukhari no.2020
[2] Lathaif al-Ma’arif hlm.192
[3] HR. Nasa’i no.1786, Ibnu Majah no.1344, Ibnu Khuzaimah no.1172, Ibnu
Hibban 6/323, Hakim 1/311. Dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwaa
2/204, no. 454
[4] HR. Abu Nu’aim dalam at-Thib: 12/1, Thabarani dalam Al-Ausath:2725,
dihasankan oleh al-Albani dalam As-Shahihah no. 1647
[5] Fathul Bari 11/83
[6] HR. Tirmidzi no.2380, Ibnu Majah no.3349, Ahmad 4/132, lbnul Mubarak
dalam az-Zuhd no.603, Thabarani dalam al-Kabir 20/644, Ibnu Hibban 5236, Hakim
4/121 dll. Dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Shahihah no.2265, al-Irwaa
no.1983
[7] Az-Zuhd hal 373, Ahmad bin Hanbal
[8] HR. Bukhari no. 568 dan Muslim no. 647
[9] Fathul Bari 1/278
[10] Idem
[11] Zaadul Ma’ad 1/321
[12] HR. Bukhari no. 2024
[13] HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no.3850. Dishahihkan oleh Syaikh
al-Albani dalam al-Misykah no. 2091
[14] Majmu Fatawa Syaikh Ibnu Baz 15/426
[15] Dinukil
dari buku Berburu Lailatul Qadar yang disusun oleh Ustadz Abu Aniisah Syahrul
Fatwa Lc, M.A.
Posting Komentar untuk "Cara Mendapatkan Lailatul Qadar"