Kapan Waktu Lailatul Qadar

 

Waktu Lailatul Qadar


Bulan Ramadan, bulan penuh berkah dan ampunan. Salah satu keutamaan terbesar dalam bulan ini adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Namun, kapan tepatnya malam Lailatul Qadar terjadi? Pertanyaan ini telah menjadi perbincangan para ulama dan telah dijelaskan dalam berbagai riwayat. Rasulullah sendiri menganjurkan umatnya untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Hal ini mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah, tidak hanya pada satu malam tertentu, tetapi sepanjang periode tersebut.

Dalam pembahasan kali ini, kita akan mengulas lebih lanjut tentang waktu Lailatul Qadar berdasarkan hadis-hadis yang shahih serta pendapat para ulama. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kita taufik dan hidayah untuk menemukannya dan meraih keberkahan yang ada di dalamnya. Aamiin.

WAKTU LAILATUL QADAR

Lailatul Qadar waktunya pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Lebih diharapkan terjadi di malam-malam ganjil daripada malam yang genap. Dan ini adalah pendapat dari madzhab Syafi’iyyah,[1] Hanabilah,[2] salah satu pendapat Malikiyyah.[3] Pendapat ini menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,[4] ash-Shan’ani,[5] Syaikh bin Baz[6] dan Syaikh Ibnu Utsaimin[7].

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Madzhab kami adalah madzhab mayoritas ulama bahwa lailatul qadar di sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan dan malam-malam ganjilnya lebih diharapkan”.[8]

Dalil-dalil akan hal ini diantaranya;

1). Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ.

“Carilah malam Lailatul Qadar di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”[9]

2). Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

التَمِسُوها في العَشْرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ لَيْلَةَ القَدْرِ، في تاسِعَةٍ تَبْقى، في سابِعَةٍ تَبْقى، في خامِسَةٍ تَبْقى

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Lailatul Qadar pada hari kesembilan yang tersisa, pada hari ketujuh yang tersisa, pada hari ke lima yang tersisa.”[10]

3). Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dia berkata:

أنَّ رِجالًا مِن أصْحابِ النَّبيِّ ﷺ أُرُوا لَيْلَةَ القَدْرِ في المَنامِ في السَّبْعِ الأواخِرِ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ: أرى رُؤْياكُمْ قدْ تَواطَأَتْ في السَّبْعِ الأواخِرِ، فمَن كانَ مُتَحَرِّيَها فَلْيَتَحَرَّها في السَّبْعِ الأواخِرِ.

Beberapa sahabat laki-laki diperlihatkan Lailatul Qadar di malam mimpi pada tujuh hari terakhir Ramadhan, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Aku melihat mimpi kalian bersepakat bahwa lailatul qadar pada tujuh hari terakhir dari Ramadhan. Barangsiapa yang ingin mencari Lailatul Qadar maka hendaklah dia cari pada tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan”.[11]

4). Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dia berkata:

رَأى رَجُلٌ أنَّ لَيْلَةَ القَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ، فَقالَ النبيُّ ﷺ: أَرى رُؤْياكُمْ في العَشْرِ الأواخِرِ، فاطْلُبُوها في الوِتْرِ منها.

Ada seorang yang melihat Lailatul Qadar pada malam ke dua puluh tujuh Ramadhan. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat mimpi-mimpi kalian tentang Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, maka carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjilnya”. [12]

Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan yang waktunya dirahasiakan. Rasulullah awalnya mengetahui kapan malam ini terjadi, tetapi karena adanya perdebatan di antara dua sahabat, beliau lupa akan waktunya. Nabi lalu menganjurkan umatnya untuk mencarinya di malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir Ramadan (HR. Bukhari).

Beberapa sahabat, seperti Ubay bin Ka’ab, meyakini bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 (HR. Muslim), sementara riwayat lain menunjukkan bahwa malam tersebut pernah terjadi pada malam ke-21 (HR. Bukhari). Oleh karena itu, para ulama berbeda pendapat mengenai waktu pastinya.

Sebagian ulama, seperti Imam Asy-Syafi’i, berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada satu malam tertentu yang tetap setiap tahun. Namun, ulama lain, seperti An-Nawawi, meyakini bahwa malam ini berpindah-pindah setiap tahunnya, sesuai dengan berbagai riwayat yang menyebutkan malam yang berbeda-beda.

Hikmah dirahasiakannya malam ini adalah agar umat Islam bersemangat dalam beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir, bukan hanya pada satu malam tertentu. Wallahu a’lam.

APAKAH LAILATUL QADAR WAKTUNYA TETAP ATAU BERGANTI-GANTI?

Lailatul Qadar waktunya tidak tetap pada satu malam tertentu saja di setiap tahun. Bahkan berganti-ganti pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, Ini adalah pilihan dari madzhab as-Syafi’iyyah,[13] Hanabilah,[14] salah satu pendapat Malikiyyah[15] dan ini adalah pendapat kebanyakan ahli ilmu.[16]

Dalil dalam masalah ini adalah;

1). Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كُنْتُ أُجاوِرُ هذِه العَشْرَ، ثُمَّ قدْ بَدا لي أنْ أُجاوِرَ هذِه العَشْرَ الأواخِرَ، فمَن كانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَثْبُتْ في مُعْتَكَفِهِ، وقدْ أُرِيتُ هذِه اللَّيْلَةَ، ثُمَّ أُنْسِيتُها، فابْتَغُوها في العَشْرِ الأواخِرِ، وابْتَغُوها في كُلِّ وِتْرٍ، وقدْ رَأَيْتُنِي أسْجُدُ في ماءٍ وطِينٍ، فاسْتَهَلَّتِ السَّماءُ في تِلكَ اللَّيْلَةِ فأمْطَرَتْ، فَوَكَفَ المَسْجِدُ في مُصَلّى النبيِّ ﷺ لَيْلَةَ إحْدى وعِشْرِينَ، فَبَصُرَتْ عَيْنِي رَسولَ اللَّهِ ﷺ، ونَظَرْتُ إلَيْهِ انْصَرَفَ مِنَ الصُّبْحِ ووَجْهُهُ مُمْتَلِئٌ طِينًا وماءً.

Aku beri’tikaf pada sepuluh hari ini (pertengahan Ramadhan). Kemudian nampak bagiku untuk I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Barangsiapa yang ikut I’tikaf bersamaku maka hendaklah dia tetap di tempat I’tikafnya. Sungguh aku diperlihatkan malam Lailatul qadar kemudian aku dibuat lupa, maka carilah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dan carilah pada malam-malam ganjilnya. Sungguh aku melihat dalam mimpi bahwa aku sujud di atas air dan tanah. Langit pada malam itu menurunkan hujan yang deras. Maka atap masjid sampai menumpahkan air ke tempat shalat Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada malam ke dua puluh satu. Mataku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pagi harinya, ketika Rasulullah keluar bekas air dan tanah masih menempel pada wajahnya.[17]

2). Dari Abdullah bin Unais radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أُرِيتُ لَيْلَةَ القَدْرِ، ثُمَّ أُنْسِيتُها، وَأَرانِي صُبْحَها أَسْجُدُ في ماءٍ وَطِينٍ. قالَ: فَمُطِرْنا لَيْلَةَ ثَلاثٍ وَعِشْرِينَ، فَصَلّى بنا رَسُولُ اللهِ ﷺ، فانْصَرَفَ وإنَّ أَثَرَ الماءِ والطِّينِ على جَبْهَتِهِ وَأَنْفِهِ.

Aku diperlihatkan Lailatul qadar kemudian aku dibuat lupa. Aku diperlihatkan pada pagi harinya aku sujud di atas air dan tanah. Kami diturunkan hujan pada malam ke dua puluh tiga. Rasulullah shalat bersama kami, kemudian beliau pergi dan bekas air dan tanah masih menempel di kening dan hidungnya.[18]

SEBAB DIRAHASIAKANNYA

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu dia berkata:

خَرَجَ النبيُّ ﷺ لِيُخْبِرَنا بلَيْلَةِ القَدْرِ فَتَلاحى رَجُلانِ مِنَ المُسْلِمِينَ فَقالَ: خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاحى فُلانٌ وفُلانٌ، فَرُفِعَتْ وعَسى أنْ يَكونَ خَيْرًا لَكُمْ

Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar untuk memberi kabar kepada kami tentang Lailatul qadar. Kemudian ada dua orang dari kaum muslimin yang sedang bertengkar. Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata: “Aku keluar untuk mengabarkan kalian tentang Lailatul qadar, akan tetapi fulan dan fulan bertengkar, kemudian berita itu diangkat dariku, semoga ini menjadi kebaikan bagi kalian.”[19]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Sabdanya; semoga ini mejadi kebaikan bagi kalian, sisi kebaikan yang dimaksud adalah dengan disembunyikannya Lailatul qadar akan memotivasi untuk menghidupkan seluruh malamnya dalam satu bulan atau pada sepuluh hari terakhir, berbeda jika keberadaan Lailatul qadar jika sudah diketahui”[20]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Diantara sebab dirahasiakannya malam Lailatul qadar adalah agar para hamba memperbanyak amalan di malam-malam tersebut (sepuluh hari terkahir) dengan shalat, dzikir, do’a sehingga mereka menambah kedekatan kepada Allah dan bertambah pahalanya. Juga agar terlihat siapa yang sungguhsungguh dalam mencarinya dan siapa yang malasmenyepelekannya”.[21]

LAILATUL QADAR AKAN TETAP ADA SAMPAI HARI KIAMAT

Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ.

“Carilah Lailatul qadar pada malam ganjil darisepuluh hari terakhir bulan Ramadhan."[22]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Dan telah sepakat orang yang dipercaya bahwa Lailatul qadar akan tetap ada sampai akhir dunia, berdasarkan hadits-hadits yang shahih yang masyhur”.[23][24]



[1] Mughnil Muhtaj 1/449, as-Syirbini

[2] Kassyaful Qina’ 2/344, al-Buhuti

[3] Al-qawanin al-Fiqhiyyah hlm.85, Ibnul Jazzi

[4] Majmu’ Fataawa 25/284

[5] Subulus Salam 2/176

[6] Majmu’ Fataawa Syaikh Ibnu Baz 6/399

[7] Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu Utsaimin 20/346-347

[8] Raudhatut Thalibin 2/389

[9] HR. Bukhari no.2017, Muslim no.1169

[10] HR. Bukhari no.2021

[11] HR. Bukhari no.2025, Muslim no.1165

[12] HR. Bukhari no.6991, Muslim no.1165

[13] Al-Majmu’ 6/450, an-Nawawi

[14] Al-Inshaf 3/354, al-Mardawi

[15] Hasiyah ad-Dasuki 1/551

[16] Fathul Qadir 2/389, Ibnul Humam

[17] HR. Bukhari no. 2108, Muslim no. 1167

[18] HR. Muslim no.1168

[19] HR. Bukhari no.2023

[20] Fathul Bari 4/268

[21] Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin 20/347

[22] HR. Bukhari no. 2017, Muslim no.1169

[23] Syarah Shahih Muslim 8/57

[24] Dinukil dari buku Berburu Lailatul Qadar karya Ustadz Abu Aniisah Syahrul Fatwa (dengan sedikit penambahan).



Posting Komentar untuk "Kapan Waktu Lailatul Qadar"